Kamis, 05 November 2015
















Pariwisata Sebagai Sebuah Sistem
(Studi Kasus Objek Wisata Taman Purbakala Gojeng Kab. Sinjai)
Saiful Hasan(60800113068)















TAMAN PURBAKALA BATU PAKE GOJENG
Sebuah gambaran tentang keindahan suatu bentukan fenomena alam yang menjadi sebuah eksotisme bagi penjelajah atau pelesiran dengan rangkaian latar belakang sejarah keberadaan dimana para nenek moyang mulai mengatur siasat dan merencanakan sesuatu demi mempertahankan wilayah bumi Tellulimpoe.

Keindahan Taman Purbakala Batu Pake Gojeng
Gojeng ini merupakan acuan bagi pemerintah Kabupaten Sinjai yang dijadikan sebagai taman wisata alam dan budaya dimana secara geomorfologi ketinggian wilayah dan sekitarnya secara umum adalah 59 sampai 96 meter diatas permukaan laut. Di atas bukit tersebut terdapat situs Batu Pake Gojeng yang dikenal dengan kuburan batu yang memiliki ketinggian dari permukaan laut adalah 59 mdpl, 40 m diatas Kota Sinjai. Lokasi wilayah keberadaan obyek daya tarik wisata ini terletak di kelurahan Biringere Kecamatan Sinjai Utara, sekitar 2 km dari pusat kota Sinjai. Batu Pake Gojeng dalam defenisi dikatakan Batu Pake adalah batu yang telah di pahat dan Gojeng adalah nama wilayah tersebut. Versi lain mengatakan bahwa Batu Pake adalah batu bertuah bagi masyarakat setempat.
Puncak Taman Purbakala Batu Pake Gojeng yang juga merupakan Benteng pengintaian dan markas pertahanan Jepang dengan kemudahan mengawasi kapal laut yang melintasi Teluk Bone maupun pesawat terbang sekutu. Memiliki panorama alam Kabupaten Sinjai, memandang jauh deretan Pulau Sembilan dengan jejer rimbunan hutan bakau Tongke-tongke, serta laut yang biru menghampar diatas terumbu karang Larea-rea. Kompilasi alam yang membuat para pelesiran tertarik untuk mengadakan perjalanan wisata sekaligus sebagai wisata konveksi dan budaya arkeologi dimana memiliki nilai historis tersendiri.
Keunikan dari ketinggian arkeologi dan bentukan alam ini adalah sebuah misteri yang belum terpecahkan. Ketika dilakukan penggalian penyelamatan (Rescue Excavation) pada tahun 1982, dikawasan ini ditemukan berbagai jenis benda cagar budaya (BCB) bergerak seperti keramik dan pecahan-pecahannya, tembikar sejumlah kecil fragment keramik blue underglass serta gigi buvidae, yang diperkirakan dari zaman Dinasty Ming, fosil kayu dan peti mayat. Taman Purbakala memiliki nilai historis tersendiri dimana memiliki tiga tinggalan seperti tinggalan megalitik, artifak, dan ekofak. Tinggalan megalitik  terbukti dengan adanya batu berlubang yang berdiameter sangat variatif yaitu antara 15 cm hingga 70 cm. Meskipun demikian secara umum ukuran diameter lubang berkisar 25 cm, 40 cm, dan 50 cm dengan kedalaman 35-60 cm yang merupakan ukuran dominan secara acak dan tersusun, seperti satu lubang besar yang dikelilingi oleh sejumlah lubang kecil atau sederet lubang kecil diapit oleh dua buah lubang besar, sepasang lubang sejajar dengan ukuran yang sama atau berbeda, dan sebagainya. Tinggalan arkeologi lainnya dengan adanya Menhir-menhir kecil yang berukuran tinggi 12-47 cm, lebar antara 20-23 cm. sedangkan  peninggalan megalitik yang paling utama dengan terdapatnya bongkahan alami yang memiliki ukuran yang bervariasi. Dan tinggalan batu berpahat persegi yang merupakan titik pusat dari variasi batu berpahat lainnya. Salah satu dari batu berlubang persegi (yang terbesar) hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat sekitar situs Batu Pake Gojeng sebagai bekas makam Raja-raja keturunan Raja Batu Pake Gojeng yang pertama. 
Bukti peninggalan arkeologisnya telah dirapikan dibuat dengan jalan setapak sebanyak 120 buah anak tangga menuju bukit dan dijadikan lokasi obyek daya tarik wisata baik alam maupun budaya. Di dalam areal situs berbagai pohon dapat kita jumpai  seperti cemara (casuarinas sp), pohon cenrana yang sudah cukup tua, kalumpang (Stercuilla), kelapa (Cocos Nucivera), Kamboja (Plumera accuminata), Akasia (Casia sp), serta Bougenville (Bougenvillea spectabilis). Dalam mendukung kepariwisataan dilokasi taman ini pemerintah Kabupaten Sinjai dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah melengkapi sarana pendukung (Caravanning Sites) seperti renovasi rumah adat Taman Purbakala serta fasilitas lainnya seperti tempat permandian yang telah tua yang diyakini tempat permandian para raja-raja, refreshing kid dengan taman bermain anak-anak seperti ayunan dan luncuran, berbagai species burung yang dikarantinakan dengan variasi kandang seperti burung Rajawali Sumatera dengan kandang besar seluas 6 x 6 m dan tinggi hampir 4 mtr. Sedangkan burung Beo, Nuri Kalimantan, sepasang burung Kutilang, Serta species burung lainnya menempati kandang seukuran 1 x 1,5 mtr dengan tinggi hampir 2 mtr. Gazebo sebagai tempat bercengkrama para pelesiran yang menikmati panorama kota Sinjai dan sekitarnya serta berbagai fasilitas lainnya. Jumlah kunjungan tiap tahun meningkat dan dominan pelesiran dari mancanegara seperti Belanda, Negara-negara Asia Pasifik, serta negara tetangga lainnya seperti Australia. Biasanya dalam kunjungannya disertai konveksi wisata budaya, kunjungan historis, familiarty dan Novelty.


SISTEM PARIWISATA GOJENG
1. Component
Dengan Keindahan Panorama Taman Purbakala Batu Pake Gojeng maka menarik perhatian masyarakat ataupun para wisatawan untuk berkunjung. Sehingga taman ini selalu ramai.
Karena dari puncak bukit Batu Pake Gojeng ini Anda bisa melihat pusat kota Kabupaten Sinjai dengan pemandangan alam yang demikian indah dilatarbelakangi oleh hijaunya perkembangan hutan mangrove sinjai (Hutan Bakau) di desa Tongke-tongke kec. Sinjai Timur dan jejeran pulau-pulau sembilan (gugusan pulau-pulau kecil) yang masih menjadi wilayah kabupaten Sinjai. dan bukan hanya itu, taman ini dilengKapi sarana dan prasarana sehingga para wisatawan mwasa nyam berkunjungketempat  ini.

2. Interrelated
Dilihat dari sisi supplay taman purbakala gojeng dari kegiatan pariwisata terjadi daya tarik/ antraksi terhadap  masyarakat, wisatawan maupun pemerintah. yang dimana taman ini mndapat dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan wisata ini. Sehingga,dilengkapi dengan prasarana dan fasilitas pelayanan yang baik. Sehingga pencapaian atau aksebilitas menuju ke taman terseebut sangat mudah.
Sedangkn dilihat dari sisi demand dengan jumlah wisata yang berkunjung tiap harinya lumayan banyak maka semakin tinggi pendapatan yang diterimah oleh pihak pelayanan wisata tersebut karena di taman ini memakai sistem tiket/karcis untuk dapat masuk. 

3. Dinamyc
Sehubungan dngan pengembangan pariwisata di objek wisata taman purbakala batupake gojeng maka memberi perubahan tersendiri mulai dari cara hidup karena pariwisata dipandang faktor luar penghantam maasyarakat sinjai. 
Terjadi keragaman  karena setiap wisatawan memiliki perefensi terhadap apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Ia memiliki pengharapan yang bergam sehigga penyedia jasa perlu memahami latar belakang kebutuhan dan keinginan wisatawan.

4. External environment
Dengan dikembangkannya objek wisata taman purbakala batu pake gojeng maka memberi pengaruh terdap masyarakat yang dimana, masyarakat akan mempertahankan budaya-budaya masyarakat dulu. Karena di taman ini terdapat beberapa peninggalan bersejarah. Serta memberi pengetehuan kepada masyarakat bahwa peninggalan sejarah sangat penting untuk dijaga dan dibudidayakan. Selain itu dengan berkembangnya wisata ini dilihat dari segi ekonomi tentunya memberrikan pendapatan kepada masyarakat maupun pemerintah.

Selasa, 21 April 2015


Tugas 1 Metode Analisis Kuantitatif Perencanaan
Nama   :Saiful Hasan
Nim     :60800113068
Kelas   C1
PERBEDAAN ANALISIS KUNTITATIF dengan ANALISIS DESKRIPTIF
A.     Analisis Kuantitatif
·      Analisis Kuantitatif adalah suatu metode expremential satu test pada kondisi terkontrol yang dibuat untuk mempertunjukkan satu diketahui benar atau menguji kebenaran dari satu hipotesis (Daniel Muijl,2004). Diberi nama Kuantatatif karena kaulitas di skor ke dalam angka kuantitas dalam pengumpulan dan analisis datanya (Purwanto,2007).
·      cara untuk mengolah informasi data (kuantitatif) yang berhubungan dengan angka-angka, bagaimana mencari, mengumpul, mengolah data, sehingga sampai menyajikan data dalam bentuk sederhana dan mudah untuk dibaca atau data yang diperoleh dapat dimaknai (diinterpretasikan).
·         Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistic yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian, yaitu statistic deskriptif dan statistic inferensial. Statistic inferensial meliputi statistic  parametris dan non parametris.

B.     ANALISIS DESKRIPTIF
·      Analisis  deskriptif adalah untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaiamana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi  jenis analisis atau penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistic (Strauss dan Corbin 2003). Dengan tujuan untuk mendapatkan makna dan pemahaman, penjelasan mengenai hubungan gejala, tapi lebih dari itu menjelaskan alasan-alasan adanya hubungannya (Purwanto,2007).
·      Iqbal Hasan (2001:7) menjelaskan bahwa analisis deskriptif adalah bagian dari statistika yang mempelajari cara pengumpulan data dan penyajian data sehingga mudah dipahami. Statistika deskriptif hanya berhubungan dengan hal menguraikan atau memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu data atau keadaan. Dengan kata statistika deskriptif berfungsi menerangkan keadaan, gejala, atau persoalan. Penarikan kesimpulan pada statistika deskriptif (jika ada) hanya ditujukan pada kumpulan data yang ada.
·      Analisis Deskriptif: analisis yang bertujuan untuk menggambarkan karakteristik data (mean, frekuensi, dll) berdasarkan kategori tertentu .

Paradigma

No.
Paradigma Kuantitatif
Paradigma Deskriptif
1.
Paradigma, positivis, eksperimental, empiris
Pendekatan konstruktifis, naturalistis (interpretatif), atau perspektif postmodern.

2.
Menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

Menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas

3
Realitas bersifat obyektif dan berdimensi tunggal

Realitas bersifat subyektif dan berdimensi banyak

4
Peneliti independen terhadap fakta yang diteliti

Peneliti berinteraksi dengan fakta yang diteliti

5
Realitas bersifat obyektif dan berdimensi tunggal

Realitas bersifat subyektif dan berdimensi banyak


Jumat, 13 Maret 2015

pilar perencanaan wilayah

Pilar perencanaan wilayah
1.SDM ( symber daya manusia)
2.SDA (sumber daya alam)
3.SDB (sumber daya buatan)


tata ruang

Saiful Hasan

`RUANG DAN TATA RUANG
Pengertian
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara; termasuk di dalamnya  tanah, air, udara dan benda lainnya serta daya dan keadaan, sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan memelihara kelangsungan hidupnya.
Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak, yang menunjukkan adanya hirarki dan keterkaitan pemanfaatan ruang.
Mengapa diperlukan penyusunan tata ruang ???
1.Untuk menncegan dan menghindari benturan-benturan kepentingan atau komplik antar sector dan antar kepentingan dalam pembangunan masa kini dan masa yang akan datang.
2.Untuk menghindari terjadinya diskriminasi dalam pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam.
3.Untuk tercapainya optimalisasi pemanfaatan ruang yang memprhatikan daya dukung dan kesatuan wilayah terhadap jenis pemanfaannya.
4.Untuk terciptanya kemudahan pemanfatan fasilitas  dan pelayanan social ekonomi bagi segenap masyarakat maupun sector.
5.Untuk terjadinya kesesuaian antara tuntutan kegiatan pembangunan disatu pihak dengan kemampuan wilayah di pihak lain baik secara langsung maupun tidak langung
6.Untuk dapat terciptanya interaksi fungsional yang optimal  baik antara unit-unit wilayah maupun wilayah lainnya (keterkaitan dan ketergantungan antara wilayah)
7.Menjaga kelestarian dan kemampuan ruang/wilayah serta menjamin untuk kesinambungan pembangunan di berbagai sector.
8.Untuk dapatmemberikan arahan bagi penyusun program tahunan.
9.Agar dapat terjadinya kesesuaian ekonomi akibat pemanfaatan ruang terhadap perkembangan ekonomi social yang sedang maupun mendatang.
10.Untuk dapat menciptakan kemudahan bagi manyarakat untuk berpartisipasi pada kegiatan-kegitan produksi.